Oleh: Kristin Samah
JAKARTA (18/04/2020)—Masih tetap di rumah saja kan? Kerja di rumah atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah memang paling nyaman kalau mengenakan pakaian rumahan. T-shirt longgar, baju terusan, atau malah daster? upsss…
Sehari dua hari hanya mengenakan daster atau pakaian rumah memang menyenangkan. Seminggu-dua minggu bolehlah. Tapi kalau sudah sebulan? Kita sekarang memasuki bulan kedua, bahkan mungkin berlanjut bulan-bulan berikutnya sampai Desember? Yakin mau pakai daster saja?
Pertanyaannya adalah, selama ini kampanye menjadikan kebaya sebagai busana sehari-hari tuh untuk siapa? Untuk dilihat orang? Untuk terlihat cantik dan anggun? Kalau bener kebaya membuat cantik dan anggun, apa bener kecantikan dan keanggunan itu untuk orang lain?
Ayolaaaaah… kecantikan dan kerapihan itu harus menjadi bagian dari karakter setiap perempuan. Tampil cantik dan rapih, harus dipahami, bukan untuk orang lain tetapi untuk mengucap syukur bahwa Allah menciptakan setiap perempuan dengan kecantikan dan keunikannya. Kalau dengan cara itu, keluarga dan orang-orang di sekitar kita turut menikmati, maka biarlah mereka menikmati dalam konteks mensyukuri agungnya ciptaan Allah.
Ribet mengerjakan pekerjaan rumah dalam kostum kebaya? Tinggal pilih kebaya berbahan nyaman, yang tak sayang bila terpaksa kena percikan minyak goreng.  Jangan pernah merasa repot, karena ada fungsi lain yang tak terduga.
Bila kebaya tetap dikenakan dengan kain, sekalipun cuma diikat sekadarnya, maka lingkar pinggang dan perut akan tetap terjaga. Kalau sudah ada rasa begah, pertanda mulut  harus berhenti mengunyah. Gak mau kan, pada saatnya boleh keluar rumah, tak ada satu pun kebaya yang muat?
Okelah kalau sudah tak sabar ingin segera mengenakan kebaya. Lekas… lekaaaasss… jangan biarkan kebaya-kebaya kesepian di dalam almari. Dipilih… dipilih… pakai lagi kebayamu…. (***)